Hal yang tak biasa telah terjadi dalam keputusan FIFA dalam menentukan Pemain Terbaik Dunia 2018. Tersingkirnya sang mega bintang Barcelona, Lionel Messi dari daftar 3 nomine Pemain Terbaik Dunia 2018 menjadi perbincangan hangat.
Tentu, keputusan FIFA tersebut menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan pemerhati sepak bola dunia. Jika dilihat dari sisi yang kontra, menjelaskan beberapa alasan bahwa Lionel Messi memiliki penampilan konsisten sepanjang musim lalu bersama Barcelona. Serta, secara statistik Messi dalam mengkreasi serangan dan membuat assist lebih unggul dari Cristiano Ronaldo, Luka Modric dan Mohamed Salah.
Seperti yang dilansir dari bola.com pada 11 September 2018. Namun, semua ragam poin kontra itu menjadi ‘counter attack’. Dan inilah 3 fakta yang mendukung FIFA dalam mencoret Lionel Messi sebagai top 3 Pemain Terbaik Dunia 2018.
1. Penampilan Buruk di Piala Dunia
Gagalnya messi dalam mewujudkan impian publik Argentina yang sudah rindu juara agar berjaya di Piala Dunia 2018. Harapan itu hilang setelah Argentina tersingkir, karena kalah dari Prancis, yang justru keluar menjadi juara di Piala Dunia 2018.
Nama Lionel Messi sudah mencuat membela Argentina saat usianya menginjak 19 tahun, tepatnya di Piala Dunia 2006, Jerman. Seiring berjalannya waktu, kemampuannya dalam mengolah sang kulit bundar semakin menakjubkan.
Hal itu, dibuktikan pada 2014, Argentina yang tampil sebagai tim yang tak diunggulkan. Namun, berhasil melaju ke Final, tetapi impian Lionel Messi seperti terjun bebas dari langit setelah Maro Reus menetak gol tunggal untuk kemenangan Jerman.
Dibandingkan dengan Cristiano Ronaldo dan Luka Modric, justru Messi lah yang tak berdaya di Rusia.
2. Hilangnya Sentuhan di Liga Champions
Di ajang yang sangat bergengsi Liga Champion. Jika, klub bermain bagus, maka dipastikan ada pemain yang menonjol di dalamnya. Sang pesepak bola pun bisa melaju mendapatkan penghargaan individu atas penampilannya bersama klub. Bahkan, termasuk menjadi Pemain Terbaik Dunia versi FIFA.
Pada Liga Champion kemarin, Barcelona tersingkir oleh AS Roma. Seperti kehilangan sentuhannya, Lionel Messi gagal mencetak gol ke gawang AS Roma.
Kenyataan pahit itu jelas berbanding terbalik dengan Cristiano Ronaldo dan Mohamed Salah. Sang rival, Ronaldo dapat menjadi inspirasi bagi Real Madrid meraih trofi Liga Champions 2017-2018, sekaligus tiga kali secara beruntun. Sedangkan, Mohamed Salah mengoleksi 10 gol di Liga Champions dan mengangkat timnya Liverpool sebagai runner-up.
3. Gagal Mengangkat Diri
Fakta pahit kegagalan Sang Messiah dalam menaikkan ‘derajad’. Hal ini menjadi akumulasi atau kompilasi dari penilaian di level domestik, regional, dan internasional.
Poin-poin tersebut menjadi titik lemah Lionel Messi, yang tak sanggup konsisten menciptakan efek ‘juara’. Messi hanya berjaya dengan Barcelona, namun ‘mati kutu’ saat mengenakan kostum biru-putih khas Tim Tanggo saat melekat di tubuhnya.
Sumber
Tentu, keputusan FIFA tersebut menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan pemerhati sepak bola dunia. Jika dilihat dari sisi yang kontra, menjelaskan beberapa alasan bahwa Lionel Messi memiliki penampilan konsisten sepanjang musim lalu bersama Barcelona. Serta, secara statistik Messi dalam mengkreasi serangan dan membuat assist lebih unggul dari Cristiano Ronaldo, Luka Modric dan Mohamed Salah.
Seperti yang dilansir dari bola.com pada 11 September 2018. Namun, semua ragam poin kontra itu menjadi ‘counter attack’. Dan inilah 3 fakta yang mendukung FIFA dalam mencoret Lionel Messi sebagai top 3 Pemain Terbaik Dunia 2018.
1. Penampilan Buruk di Piala Dunia
Gagalnya messi dalam mewujudkan impian publik Argentina yang sudah rindu juara agar berjaya di Piala Dunia 2018. Harapan itu hilang setelah Argentina tersingkir, karena kalah dari Prancis, yang justru keluar menjadi juara di Piala Dunia 2018.
Nama Lionel Messi sudah mencuat membela Argentina saat usianya menginjak 19 tahun, tepatnya di Piala Dunia 2006, Jerman. Seiring berjalannya waktu, kemampuannya dalam mengolah sang kulit bundar semakin menakjubkan.
Hal itu, dibuktikan pada 2014, Argentina yang tampil sebagai tim yang tak diunggulkan. Namun, berhasil melaju ke Final, tetapi impian Lionel Messi seperti terjun bebas dari langit setelah Maro Reus menetak gol tunggal untuk kemenangan Jerman.
Dibandingkan dengan Cristiano Ronaldo dan Luka Modric, justru Messi lah yang tak berdaya di Rusia.
2. Hilangnya Sentuhan di Liga Champions
Di ajang yang sangat bergengsi Liga Champion. Jika, klub bermain bagus, maka dipastikan ada pemain yang menonjol di dalamnya. Sang pesepak bola pun bisa melaju mendapatkan penghargaan individu atas penampilannya bersama klub. Bahkan, termasuk menjadi Pemain Terbaik Dunia versi FIFA.
Pada Liga Champion kemarin, Barcelona tersingkir oleh AS Roma. Seperti kehilangan sentuhannya, Lionel Messi gagal mencetak gol ke gawang AS Roma.
Kenyataan pahit itu jelas berbanding terbalik dengan Cristiano Ronaldo dan Mohamed Salah. Sang rival, Ronaldo dapat menjadi inspirasi bagi Real Madrid meraih trofi Liga Champions 2017-2018, sekaligus tiga kali secara beruntun. Sedangkan, Mohamed Salah mengoleksi 10 gol di Liga Champions dan mengangkat timnya Liverpool sebagai runner-up.
3. Gagal Mengangkat Diri
Fakta pahit kegagalan Sang Messiah dalam menaikkan ‘derajad’. Hal ini menjadi akumulasi atau kompilasi dari penilaian di level domestik, regional, dan internasional.
Poin-poin tersebut menjadi titik lemah Lionel Messi, yang tak sanggup konsisten menciptakan efek ‘juara’. Messi hanya berjaya dengan Barcelona, namun ‘mati kutu’ saat mengenakan kostum biru-putih khas Tim Tanggo saat melekat di tubuhnya.
Sumber
Tumben! Terdepaknya Sang Messiah Dari 3 Pemain Terbaik Dunia
4/
5
Oleh
flashviral


